Senin, 02 Juni 2014

Pemeliharaan dan Perawatan Kebersihan Maguwoharjo International Stadium (MAGIS)

Pernahkah saudara-saudara membayangkan bagaimana memelihara dan merawat salah satu aset kebanggaan Pemkab Sleman ini? Pernahkah membayangkan siapa-siapa yang merawat rumput lapangan bola yang bertaraf internasional tersebut? Siapa yang menjaga kebersihan lingkungan kompleks stadion yang relatif luas ini? Terlebih selepas laga pertandingan yang menarik banyak penonton. Siapa yang membersihkan sampah di seluruh penjuru kompleks stadion?







Pemeliharaan dan perawatan bagi sebagian besar orang justru merupakan hal yang tak mudah, sampai-sampai kita mengenal ujaran "merawat dan menjaga itu jauh lebih sulit daripada membangun". Meskipun bukan berarti kemudian kita menyepelekan proses pembangunan, bukan itu maksudnya. Membangun, jelas juga bukan hal yang mudah dan bisa kita sepelekan, namun ternyata setelah selesai membangun, ada hal yang tak kalah sulitnya yaitu memelihara dan menjaga agar apa yang kita bangun tersebut mampu bertahan. Demikian juga dalam persoalan menjaga kebersihan. Tak semua orang selalu mau membereskan sampah atau kotoran yang berantakan, apalagi jika jumlahnya banyak.

UPT Stadion Maguwoharjo sebagai bagian dari Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Pemkab Sleman menyadari sepenuhnya hal tersebut. Kebersihan, pemeliharaan bangunan dan terutama lapangan sepakbola sangatlah vital sebagai bagian dari Maguwoharjo International Stadium (MAGIS). Perawatan dan pemeliharaan kompleks stadion secara khusus ditangani oleh beberapa petugas lapangan yang tergabung dalam bagian kebersihan dan pemeliharaan.







Pak Riyanto (52thn), asal Kricak, Tegalrejo adalah koordinator lapangan untuk pemeliharaan dan perawatan kebersihan kompleks stadion. Bekerja di kompleks stadion sejak masa pembangaunan (2003) hingga saat ini. Sebagai koordinator petugas lapangan beliau memimpin 23 orang pekerja yang dibagi sebagai berikut; 5 orang bertugas mengurusi pemeliharaan dan perawatan rumput lapangan, 7 orang bertugas mengurusi pemeliharaan taman di sekitar kompleks stadion, 2 orang bertugas di bagian ME (mechanical and engineering), dan 9 orang bertugas untuk kebersihan kompleks stadion.



Sementara untuk rutinitas yang dilakukan dalam rangka pemeliharaan dan perawatan kebersihan stadion itu sendiri adalah; perawatan rutin rumput lapangan sepakbola dilakukan 2 minggu sekali. Perawatan rutin ini bervariasi sesuai kebutuhan, memotong total rumput lapangan dan memberi pupuk yang biasanya memakan waktu sekitar 2 hari pengerjaan, dan memotong pola rumput (biasanya dilakukan menjelang pertandingan-pertandingan) yang memakan waktu sekitar 1 hari pengerjaan. Selain itu, secara khusus perawatan dan pemeliharaan rumput lapangan yang disesuaikan kebutuhan, dengan melihat dan mempertimbangkan kondisi lapangan sepakbola.




Meskipun ada petugas-petugas khusus yang melakukan perawatan dan pemeliharaan kebersihan stadion, ada baiknya kita semua menyadari bahwa kewajiban menjaga kebersihan lingkungan, dalam hal ini adalah kompleks stadion seyogyanya juga menjadi beban tanggungjawab kita bersama. Hal paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah tidak meninggalkan/membuang sampah sembarangan di kompleks stadion. Misalnya pada saat menyaksikan laga pertandingan sepakbola, ada baiknya kita membiasakan diri untuk membuang sampah pada tempat yang telah disediakan, atau setidaknya berusaha seminimal mungkin meninggalkan sampah di stadion. Dengan demikian kebersihan Maguwoharjo International Stadium (MAGIS) sebagai stadion kebanggaan kita dapat terjaga... Yuk, kita jaga bersama kebersihan stadion....

Sabtu, 31 Mei 2014

Stop Kekerasan...

Insiden ini sudah agak lama, namun sepertinya perbincangan mengenai topik ini tak bisa dianggap basi dan bahkan harus selalu diperbincangkan dan dicari akar permasalahannya agar segera bisa ditemukan solusinya. 

Pada tanggal 29 April 2014 lalu, terjadi kerusuhan antar suporter dalam pertandingan antara PSS Sleman vs PSIM Jogja. Stadion mengalami kerusakan yang cukup parah. Kalkulasi kerugian akibat insiden kerusuhan antar suporter ini menghasilkan angka kurang lebih 17 juta rupiah. Angka tersebut adalah nilai kerugian yang diderita oleh UPT Stadion Maguwoharjo sebagai akibat adanya insiden kekerasan antar suporter kedua klab sepakbola tersebut.








Kekerasan, entah mengapa selalu mudah terjadi dalam dunia olahraga, khususnya di tanah air. Baik kekerasan yang terjadi di dalam lapangan ataupun kekerasan yang terjadi di luar lapangan pertandingan. Kekerasan sepertinya mudah terjadi terutama dalam cabang-cabang olahraga yang membuat masing-masing pesertanya harus bersentuhan secara fisik, seperti misalnya sepakbola. Tak jarang kita dengar beberapa insiden kekerasan yang terjadi baik di dalam arena pertandingan ataupun di luar arena pertandingan. Kekerasan, seolah menjadi satu-satunya jalan dalam menyelesaikan masalah. Seperti itulah nampaknya yang terjadi dalam insiden 29 April 2014 lalu.

Kekerasan ini biasanya dilampiaskan dengan jalan bentrok dengan pihak lain, semisal dengan suporter lawan, atau (ini yang paling sering) dilampiaskan dengan cara merusak benda atau barang yang dianggap milik lawan. Hal terakhir inilah yang sepertinya terjadi dalam insiden 29 April 2014 tersebut. Stadion dirusak karena dianggap sebagai milik dari tim lawan. Logika yang kemudian digunakan adalah, dengan merusak milik lawan maka kemarahan, kekecewaan, atau apapun itu akan mendapatkan saluran yang tepat.







Padahal sebenarnya Maguwoharjo International Stadium (MAGIS) ini bukanlah milik klab sepakbola tertentu. Stadion ini merupakan aset Pemerintah Kabupaten Sleman yang dikelola oleh UPT Stadion Maguwoharjo sebagai bagian dari Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Pemerintah Kabupaten Sleman. Ini yang nampaknya tidak dipahami oleh sebagian besar masyarakat. Bahwa MAGIS menjadi homebase atau markas klab sepakbola tertentu adalah benar, namun jika kemudian dinyatakan bahwa stadion dimiliki oleh klab sepakbola tertentu adalah hal yang keliru.

Karenanya melampiaskan kekecewaan, kemarahan, ataupun energi negatif sejenis lainnya pada stadion/fasilitas olahraga di sekitar stadion bukanlah hal yang tepat. Sekali lagi karena sesungguhnya stadion ini bukan milik klab sepakbola tertentu.




 
Karenanya, belajar dari pengalaman yang sudah ada, kekerasan sesungguhnya tidak akan pernah dengan baik menyelesaikan masalah. Olahraga mengajarkan sportivitas pada pelakunya, atau pada jejaring yang lebih luas juga pada para penonton atau suporter-nya. Apalagi cabang olahraga sepakbola mengenalkan konsep fair play yang seharunya kita junjung tinggi. Mari kita selalu semangat, bersikap positif, dan hentikan kekerasan, baik di arena pertandingan ataupun di luar arena pertandingan... 

Salam dari Maguwoharjo International Stadium (MAGIS)






Minggu, 30 Maret 2014

Minggu Pagi di Stadion Maguwoharjo.... Kenapa Tidak?

Minggu pagi bagi sebagian orang bisa jadi adalah hari paling sempurna untuk bermalas-malasan, bangun siang, dan tidak melakukan aktifitas apapun karena libur, setelah sebelumnya bekerja selama lima atau enam hari. Namun bagi sebagian yang lain hari libur bukan sebuah alasan untuk tidak beraktifitas. Banyak orang yang mengisi Minggu pagi dengan berbagai aktifitas, kendati berbeda dengan aktifitas rutin yang biasa mereka lakukan di hari-hari aktif. Beragam aktifitas dilakukan guna mengisi Minggu pagi, dari yang sekedar berjalan-jalan pagi keliling lingkungan tempat tinggalnya hingga yang berolahraga serius demi mengejar capaian prestasi tertentu. Aktifitas-aktifitas tersebut bisa dilakukan dimana saja, memanfaatkan ruang-ruang publik yang tersedia bagi masyarakat umum.





Stadion Maguwoharjo atau Maguwoharjo International Stadium (MAGIS) bisa menjadi salah satu lokasi pilihan dalam menghabiskan Minggu pagi anda. Beberapa aktifitas paling umum yang dilakukan biasanya adalah sekedar berjalan-jalan menghirup udara segar pagi atau bahkan lari pagi, atau istilah asingnya jogging, bersepeda, sekedar berkumpul bersama teman atau kerabat, atau bahkan belajar mengemudi di sekitar stadion dapat dilakukan disini.



Tak perlu juga khawatir akan haus dan lapar setelah melakukan berbagai aktifitas tersebut, karena di sekitar kawasan stadion anda dapat menemukan beberapa warung tenda yang menyediakan berbagai jenis makanan dan minuman. Meskipun belum sebanyak di tempat-tempat lain yang lebih kondang, namun keberadaan warung-warung tenda di sekitar stadion sudah cukup memenuhi kebutuhan anda akan makanan dan minuman setelah beraktifitas.








Bagi anda yang suka menghabiskan Minggu pagi dengan beraktifitas, cobalah sesekali melakukannya di Stadion Maguwoharjo. Kenapa menghabiskan Minggu pagi di Stadion Maguwoharjo? Kenapa tidak?

Jadi, tunggu apalagi? Cobalah sesekali menghabiskan Minggu pagi anda di Stadion Maguwoharjo, atau yang secara internasional diperkenalkan dengan sebutan Maguwoharjo International Stadium (MAGIS)...

Sabtu, 08 Maret 2014

Salam dari Maguwoharjo...





Salam dari Maguwoharjo. Sebuah titik kecil dalam luasnya Kabupaten Sleman. Salam dari Stadion Maguwoharjo. Salam dari UPT Stadion Maguwoharjo yang mengelola Stadion Maguwoharjo di bawah Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Pemerintah Kabupaten Sleman.

Stadion Maguwoharjo adalah aset Pemerintah Kabupaten Sleman yang mulai dibangun pada tahun 2005, dan mulai digunakan pada tahun 2007. Stadion ini adalah stadion dengan lapangan sepakbola tanpa lintasan atletik dengan rumput jenis Zoysia Matrelia Linmer. Stadion dengan kapasitas tempat duduk 40.000 ini didesain sebagai stadion sepakbola modern berkonsep "Mini San Siro" yang ditandai dengan ciri khas menara yang terletak di empat penjuru stadion dengan tangga berputarnya. Mengacu pada stadion-stadion sepakbola modern yang ada di Eropa, terutama di Inggris, Stadion Maguwoharjo tidak memiliki lintasan atletik agar supaya penonton akan lebih nyaman dalam menyaksikan pertandingan-pertandingan yang akan dilangsungkan.

Sudah jamak dikenal pula bahwa stadion ini memiliki sebutan internasional Maguwoharjo International Stadium. Sebutan yang sebelum ini disingkat sebagai MIS. Namun dengan adanya perubahan dan pembenahan dalam UPT Stadion Maguwoharjo di akhir tahun 2013 lalu, sebutan internasional tadi kemudian diputuskan untuk disingkat menjadi MAGIS. Mengapa demikian?




Penyingkatan Maguwoharjo International Stadium dengan mengambil huruf-huruf pertama menjadi MIS dirasa kurang sesuai karena terasa membawa aura yang kurang positif. Mengingat dan menimbang bahwa jika penyingkatan dilakukan dengan menggunakan kata MIS, maka kata tersebut memiliki rima yang sama dengan MISS. Miss sendiri bisa berarti "luput" atau "keliru" dan karenanya dianggap tidak membawa aura positif dan kebaikan.

Sementara penyingkatan menjadi MAGIS berangkat dari pemikiran bahwa kata MAGIS merupakan turunan dari kata MAGIC yang artinya kekuatan untuk mempengaruhi segala apa yang terjadi di sekelilingnya, atau secara singkat sering disamakan dengan "ajaib". Kata magic dimaknai juga sebagai sebuah kualitas untuk menjadi cantik yang menarik dan menyenangkan yang jauh dari keseharian alias unik. Magic juga bisa dimaknai sebagai kemampuan/keahlian dan bakat yang istimewa. Penyingkatan sebutan internasional Maguwoharjo International Stadium menjadi MAGIS dapat pula dimaknai "memiliki tuah/daya positif" sehingga diharapkan dengan penyingkatan ini bisa membawa aura positif yang mengarah pada kebaikan-kebaikan dan hal-hal positif. Diharapkan dengan penyingkatan MAGIS ini, keberadaan stadion bisa membawa aura dan atau tuah positif dan istimewa, khususnya bagi klab-klab sepakbola yang menjadikan Stadion Maguwoharjo sebagai homebase, serta membawa semangat persatuan dan solidaritas diantara para pendukung atau supporter. Tuah atau aura stadion yang akan membawa kebaikan-kebaikan, peningkatan prestasi, kebanggaan dan nasionalisme yang positif. Semangat ini juga yang menjadi salah satu landasan perbaikan dan pembenahan pengelolaan Stadion Maguwoharjo saat ini menuju ke arah yang lebih baik di masa depan.

Demikian uraian penjelasan singkat mengenai penyingkatan sebutan internasional Stadion Maguwoharjo. Tetap semangat dan selalu bersikap positif. Salam.